Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018, 1 dari 3 anak berumur di bawah 5 tahun di Indonesia tercatat mengalami anemia. Sementara itu, menurut Prof. Sally Grantham-McGregor, penyebab 50% hingga 60% kasus anemia adalah kekurangan zat besi.
Dokter spesialis gizi klinik, dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, Sp.GK dalam sebuah diskusi pada laman Kompas menjelaskan bahwa zat besi memiliki peran penting pada tumbuh kembang anak, baik secara kognitif, fisik, dan sosial. Tanpa zat besi, organ tubuh tidak dapat mendapatkan oksigen yang cukup.
Lebih lanjut lagi, sebagai bagian dari hemoglobin, asupan zat besi yang tidak terpenuhi bisa berimbas pada kecerdasan, fungsi otak, dan fungsi motorik anak dalam jangka panjang. Hal ini dapat berakibat menurunnya performa belajar, perubahan atensi dan sosial, hingga perubahan perilaku pada si anak.
Daftar Isi
Penyebab Anak Kekurangan Zat Besi

Menurut data survei Diet Total dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2014, rata-rata konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih jauh tertinggal di bawah rata-rata dunia. Hanya 43% masyarakat yang sudah rutin memakan protein hewani, sementara 57% sisanya lebih sering memakan protein nabati.
Persentase tersebut bahkan lebih rendah daripada negara Asia Tenggara lainnya. Padahal, menurut dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK melalui laman detikHealth, pemenuhan zat besi bisa dilakukan dengan menyediakan asupan yang bersumber dari protein hewani yang kaya zat besi, misal daging, ikan, telur, hingga susu.
Masalahnya, saat tubuh anak kekurangan zat besi, tubuhnya tidak akan mampu memproduksi sel darah merah dan hemoglobin yang cukup. Tubuh membutuhkan asupan heme dan asam amino yang banyak terdapat pada asupan protein hewani. Protein hewani juga terkenal kaya akan kandungan zat besi.
Dampak Anemia untuk Kecerdasan Anak

Zat besi memiliki peran penting dalam membentuk selubung saraf otak yang turut memengaruhi keterampilan kognitif anak. Termasuk di antaranya adalah bagaimana cara si anak berkomunikasi, kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan berpikir, dan fungsi-fungsi kognitif yang lainnya.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), salah satu akibat dari anemia yang paling umum adalah melemahnya daya tangkap dan pemusatan perhatian. Untuk itu, orang tua harus segera menanganinya. Ketika pertumbuhan sel otak terhambat, anak akan sulit mengikuti pembelajaran di sekolah.
Pada sumber yang lain, disebutkan bahwa skor IQ pada anak yang mengalami anemia defisiensi zat besi dapat menurun hingga 10 poin. Ciri lain seorang anak yang kekurangan zat besi adalah merasa lemas dan lelah sepanjang hari. Penurunan motorik ini, membuat anak cenderung malas bergerak dan pasif.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebutkan gejala anemia yang sering ditemui pada anak. Gejala-gejala tersebut seperti wajah pucat, bibir pucat, tubuh lemas, suasana murung, mudah marah, nafsu makan kurang, sering pusing, sulit konsentrasi, hingga mudah tertular infeksi penyakit.
Solusi untuk Anak Kekurangan Zat Besi
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan untuk memperbanyak asupan zat besi dari sumber protein hewani seperti daging, telur, ikan, atau susu. Faktanya, tubuh lebih mudah menyerapnya daripada zat besi dari sumber protein nabati. Tubuh bisa menyerap hingga 30% zat besi pada sumber hewani, sementara hanya 8% pada sumber nabati.
Orang tua juga bisa mengoptimalkan kebutuhan zat besi harian dengan susu. Melalui laman detikHealth, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK menyarankan untuk memilih susu dengan kandungan zat besi. Selain itu, kombinasi asupan vitamin C bisa mendukung penyerapan zat besi dari susu tersebut hingga dua kali lipat.
Ada sebuah riset menarik yang terbit di Journal of Dairy Science pada tahun 2011 silam. Javier Diaz Castro adalah seorang profesor dari Universiy of Granada yang memprakarsai penelitian ini. Beliau meneliti tikus dan menyimpulkan jika susu kambing bisa mengatasi defisiensi zat besi lebih baik daripada susu sapi.


