Masyarakat kita kerap memukul rata semua penyakit di perut bagian atas sebagai maag. Padahal, keluhan ini bisa merujuk tiga kondisi medis yang berbeda, yaitu dispepsia, GERD, dan gastritis, ketiganya bukanlah penyakit yang sama.
Karena pengertian dan penyebabnya berbeda, penanganannya pun tak bisa kita samakan. Nah, memahami perbedaan ini sangat penting supaya kita bisa mengenali gejalanya dengan tepat. Lantas, apa sebenarnya perbedaan ketiganya?
Daftar Isi
Maag, Tak Nyaman saat Mencerna Makanan

Sebagai catatan, maag sebetulnya bukanlah nama penyakit medis, melainkan sebutan orang awam untuk dispepsia. Mengutip dari Cleveland Clinic, dispepsia ialah sindrom atau kumpulan rasa tidak nyaman di perut di saat sistem pencernaan sedang mengolah makanan.
Hal ini selaras dengan penjelasan dr. Gunady Wibowo R., Sp.PD-KGEH dari Mayapada Hospital Surabaya. “Dispepsia merupakan sekumpulan gejala gangguan pencernaan yang terjadi di saluran pencernaan atas,” tegas dr. Gunady.
Lebih lanjut lagi, dr. Gunady menyebut keluhan biasanya berupa nyeri hingga rasa terbakar di area ulu hati (epigastrium), perut terasa penuh, cepat kenyang, mual, bahkan muntah. Berbeda dengan GERD, maag sering muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah makan.
Lalu, apa pemicunya? “Maag ini umumnya disebabkan oleh iritasi pada lambung akibat pola makan yang tidak teratur, stres berlebihan, dan konsumsi makanan dan minuman tertentu yang terlalu pedas, asam, atau berlemak,” kata dr. Imelda Maria Loho, Sp.PD.
GERD, Asam Lambung Naik Kerongkongan

Berbeda dengan maag, jika keluhan yang muncul berupa dada terasa panas (heartburn), mulut asam atau pahit, hingga tenggorokan terasa seperti mengganjal, itu adalah GERD. Penyebabnya ialah asam lambung yang naik kembali ke kerongkongan.
“Kondisi ini disebabkan oleh melemahnya otot di bagian bawah kerongkongan (lower esophageal sphincter atau LES), sehingga asam lambung naik dan menyebabkan iritasi,” jelas dr. Gunady. Selain itu, ada beberapa faktor yang bisa memicunya!
- Obesitas dan Kehamilan: Kondisi ini meningkatkan tekanan pada perut yang meregangkan dan melemahkan otot LES.
- Usia: Orang berusia 50 tahun ke atas lebih berisiko mengalami GERD.
- Efek Samping Obat: Konsumsi obat penenang (benzodiazepin) atau pereda nyeri/anti-inflamasi (NSAID) seperti aspirin dan ibuprofen yang membuat otot LES rileks.
- Gastroparesis: Kondisi otot-otot di lambung melambat sehingga tidak menggerakkan makanan sebagaimana mestinya.
- Hernia Hiatus: Kondisi bagian atas perut menekan ke atas melalui diafragma.
- Faktor Lain: Kebiasaan langsung berbaring setelah makan atau riwayat operasi di area dada dan perut bagian atas.
Gastritis, Radang di Dinding Lambung

Terakhir adalah gastritis, yaitu kondisi peradangan pada lapisan lendir pelindung lambung. Peradangan ini muncul ketika lapisan pelindung tersebut melemah, sehingga membiarkan cairan asam pencernaan merusak jaringan lambung itu sendiri.
Menurut dr. Gunady, gejala penyakit ini biasanya berupa rasa perih hingga panas di ulu hati, perut kembung, mual, muntah, sering cegukan, turunnya nafsu makan, dan cepat merasa kenyang. Nah, ada beberapa hal yang jadi faktor risiko penyakit ini!
- Infeksi Bakteri: Helicobacter pylori adalah salah satu bakteri yang paling sering menginfeksi manusia dan memicu peradangan lambung.
- Obat Pereda Nyeri: Penggunaan NSAID secara rutin terkadang dapat menyebabkan gastritis akut maupun kronis.
- Usia Lanjut: Orang lanjut usia memiliki peningkatan risiko karena lapisan lambung cenderung menipis seiring bertambahnya usia.
- Alkohol: Konsumsi alkohol berlebihan bisa mengiritasi dan merusak lapisan lambung, membuatnya rentan terhadap cairan pencernaan.
Periksakan ke Dokter Jika Maag, GERD, dan Gastritis Tak Kunjung Sembuh
Segera ke dokter jika gangguan lambung tak kunjung membaik. Dokter biasanya akan menyarankan endoskopi, yaitu pemeriksaan bagian dalam saluran cerna menggunakan selang fleksibel berkamera.
“Dari hasil pemeriksaan, dokter dapat menentukan pengobatan yang tepat. Pada kasus gastritis yang sering kambuh, endoskopi juga bisa membantu mencari penyebab lain, misalnya penyakit radang usus,” kata dr. Muhamad Yugo Hario Sakti Dua, Sp.PD-KGEH.
Penderita gangguan lambung juga bisa bantu netralkan asam dengan rutin mengonsumsi susu kambing. Susu ini memiliki sifat antasida alami yang bisa membuat lambung tenang dan nyaman, juga kaya gizi dan mudah dicerna oleh tubuh.

