Banyak yang mengaku puasanya jauh lebih kuat setelah minum susu saat sahur. Sebaliknya, ada juga yang, jangankan merasa berenergi, meminum susu saat sahur malah membuat perut mereka sakit yang berujung pada lemas serta kehausan seharian.
Dua cerita yang bertolak belakang ini bikin kita bertanya-tanya. Sebenarnya, minum susu saat sahur itu, membawa manfaat atau malah mengundang gangguan pencernaan? Nah, lulusan ilmu gizi, Mhd. Aldrian, S.Gz., telah menjelaskannya melalui laman detikHealth.
Daftar Isi
Bolehkah Minum Susu saat Sahur?

Jawaban singkatnya ialah sangat boleh. Di dalam segelas susu murni, kita sudah mendapatkan protein, lemak, karbohidrat (dalam bentuk laktosa), serta tambahan vitamin dan mineral penting seperti kalsium, vitamin B2, dan B12. Komposisi ini, bisa dibilang cukup juara.
Kandungan protein di dalam susu, khususnya whey dan kasein, memang terbukti bisa memberikan efek kenyang. Secara ilmiah, protein ini bertugas merangsang tubuh untuk melepaskan hormon kenyang (seperti GLP-1 dan PYY).
Inilah yang membuat sebagian orang merasa rasa laparnya berhasil mereda setelah menenggak segelas susu. Namun, susu bukanlah asupan yang bisa kita konsumsi tanpa makanan pendamping lainnya saat sahur.
Sahur dengan Susu Saja Tidak Cukup

Masalahnya baru muncul di saat seseorang merasa minum segelas susu saja sudah cukup untuk bekal puasa seharian, apalagi kalau meminumnya dalam kondisi mata masih mengantuk dan malas mengunyah makanan berat. Nah, sensasi kenyang dari susu ini agak menipu.
Energi yang kita butuhkan untuk beraktivitas tanpa makan dan minum selama belasan jam tidak akan cukup hanya dengan satu gelas susu. Kalorinya kurang untuk menopang tubuhmu seharian. Tubuh kita tetap butuh bahan bakar utama dari makanan yang utuh.
Meski susu sendiri sangat baik diminum saat sahur, tetapi idealnya, sahur itu harus lengkap. Setidaknya, kudapan sahur perlu memberikan protein padat, karbohidrat kompleks, hingga serat dan mikronutrien yang cukup.
- Kabohidrat kompleks, seperti nasi merah, roti gandum, atau kentang. Ini fungsinya agar energi dirilis secara perlahan ke dalam tubuh.
- Protein padat, seperti telur, ayam, tahu, atau tempe untuk menjaga massa otot dan mempertahankan rasa kenyang lebih lama.
- Serat dan mikronutrien, misalnya sayur dan buah untuk menjaga pencernaan dan kestabilan gula darah dalam sehari.
Nah, jika kita makan sahur dengan komposisi di atas, susu bisa menjadi pelengkap yang sempurna. Namun, jika kita menjadikan susu sebagai satu-satunya menu sahur, tubuh akan cepat kehabisan tenaga.
Penyebab Sakit Perut Setelah Minum Susu saat Sahur
Nah, ini dia alasan kenapa banyak orang bolak-balik ke toilet setelah sahur dengan susu. Meskipun bergizi tinggi, susu bisa menjadi pemicu masalah pencernaan bagi sebagian orang yang memang sensitif. Berikut alasannya!
1. Intoleransi Laktosa
Ini jadi penyebab paling umum. Berdasarkan penelitian di jurnal The Lancet Gastroenterology & Hepatology pada 2017, ternyata sekitar 68 persen populasi dunia mengalami intoleransi laktosa, dan mayoritasnya berada di Asia, termasuk Indonesia.
Tubuh kita memproduksi enzim yang bernama laktase, yang tugasnya memecah gula alami dalam susu (laktosa). Sayangnya, seiring bertambahnya usia setelah masa menyusui, produksi enzim ini terkadang menurun drastis.
Akibatnya, laktosa tak bisa dicerna di usus halus dan akan langsung masuk ke usus besar. Di sana, laktosa difermentasi oleh bakteri, menghasilkan banyak gas, dan bisa menarik cairan usus. Ujung-ujungnya, perut jadi kembung, melilit, bahkan diare parah di pagi hari.
2. Alergi Susu Sapi

Berbeda dengan intoleransi laktosa yang bermasalah di enzim, alergi susu berhubungan dengan sistem imunitas. Tubuh menganggap protein susu sebagai zat berbahaya dan langsung melakukan perlawanan.
Di saat tubuh salah mengidentifikasi protein susu sebagai zat berbahaya, sistem imun kemudian memproduksi antibodi (biasanya IgE) untuk melawan. Nah, saat susu dikonsumsi lagi, tubuh biasanya memicu reaksi alergi.
3. Kebanyakan Gula
Tak sedikit produk susu kemasan yang ada di pasaran ternyata sudah ditambahkan gula pasir yang cukup tinggi. Mengonsumsi gula berlebih saat sahur akan membuat gula darah naik-turun dengan cepat, memicu rasa lemas, dan lapar tak lama setelah imsak.
Penutup
Meskipun terdengar membatasi, intoleransi laktosa dan alergi susu sebenarnya dapat kita kelola dengan baik. Banyak orang tetap dapat menikmati produk susu dalam jumlah yang kecil, berganti ke susu lain, atau memilih susu rendah laktosa seperti susu kambing.
Untuk langkah alternatifnya, kita bisa menggantinya dengan susu yang lebih ramah pencernaan. Misalnya susu kambing, ia lebih rendah laktosa dan memiliki protein yang mudah tercerna, tetapi dengan profil gizi yang mirip atau bahkan lebih baik ketimbang susu sapi.
Saat ini, susu kambing menjadi alternatif yang populer karena teksturnya lembut, lebih mudah dicerna, dan biasanya tak memicu reaksi seperti susu sapi. Salah satu merek susu kambing bubuk paling recommended adalah Susu Kambing Merapi.


