Cedera ringan memang sering menjadi tamu tak diundang bagi kita yang rutin berolahraga. Karena rasanya masih bisa ditahan, banyak dari kita yang memaksakan diri untuk tetap olahraga meski saat cedera sekalipun.
Hal semacam ini kerap menjadi dilema. Saat semangat sedang membara untuk jogging pagi atau gym misalnya, tetapi tiba-tiba lutut terasa nyeri atau punggung terasa kaku. Lantas, apakah boleh olahraga saat cedera?
Daftar Isi
Menyikapi Cedera dengan Lebih Bijak

Secara medis, saat tubuh sakit, maka ia perlu istirahat. Tubuh butuh waktu untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Hanya saja, kenyataan yang ada di lapangan tidak sesimpel itu. Tak semua orang betah berdiam diri di rumah, terlebih bagi yang sudah rutin berolahraga.
Ada kecemasan psikologis yang valid di sini. Misalnya pada atlet, mereka takut performanya menurun, ototnya menyusut, hingga berat badannya naik kembali jika berhenti berolahraga. Nah, padahal, beristirahat 1-2 hari saja tak akan banyak berpengaruh pada tubuh.
Mengutip dari laman Verywell Health, faktanya tingkat kebugaran seseorang tidak akan hilang dalam semalam. Mengurangi intensitas olahraga untuk sementara waktu tidak lantas membuat kebugaran Anda terjun bebas.
Bolehkah Olahraga saat Cedera?
Meski sikap terbaik ialah istirahat, bukan berarti olahraga saat cedera tidak diperbolehkan. Hanya saja, memang ada syarat dan ketentuannya yang lebih ketat. Konsep ini, di dunia kebugaran sering disebut sebagai active recovery.
Dalam active recovery alias pemulihan aktif, alih-alih berhenti total (bed rest), Anda tetap bergerak dengan intensitas rendah untuk menjaga sirkulasi darah tetap lancar. Hal ini, justru bisa membantu mempercepat penyembuhan.
Kunci olahraga saat cedera adalah memodifikasi tujuan, bukan memaksakan ambisi. Jika biasanya tujuan olahraga adalah meningkatkan performa, maka saat cedera tujuannya bergeser menjadi sekadar mempertahankan gerak.
Tips Sebelum Berolahraga saat Cedera
Karena tubuh tidak dalam kondisi fit 100%, sebelum mulai mengenakan sepatu lari atau mengangkat barbel lagi, ada protokol keamanan yang wajib kita perhatikan. Nah, anggap saja ini sebagai checklist keselamatan untuk mencegah cedera semakin parah.
1. Ukur Skala Nyeri

Seberapa parah rasa sakit dan nyeri yang menyerang, pastinya hanya kita yang tahu. Cobalah gunakan skala 1-10 untuk mengukur. Jika rasa nyeri saat bergerak masih di angka 1-3 (tidak nyaman tapi tidak menyakitkan), mungkin masih bisa melanjutkan dengan hati-hati.
Namun, jika rasa sakit mulai tajam, menusuk, atau membuat gerakan menjadi pincang, itu adalah tanda berhenti. Segera sudahi sesi olahraga. Ingat, rasa sakit tersebut adalah sinyal dan alarm dari tubuh.
2. Teknik Substitusi
Ini adalah salah satu strategi latihan favorit para atlet saat sedang cedera. Jika satu bagian tubuh sakit, maka latihlah bagian yang lain. Misalnya, jika cedera bagian atas (bahu/tangan), maka fokuskan olahraga untuk melatih kaki, misal leg press atau stationary bike.
Sebaliknya, jika yang cedera bagian bawah (lutut/ankel), maka fokuskan latihan pada upper body. Kita bisa melakukan seated dumbbell press (angkat beban sambil duduk), boxing ringan, atau berenang menggunakan pelampung kaki.
3. Keseimbangan & Nutrisi
Menjaga keseimbangan ketika berolahraga saat cedera sangatlah penting. Jika kaki kanan sakit, jangan membebankan semua tumpuan ke kaki kiri secara berlebihan karena bisa memicu cedera kompensasi pada kaki yang sehat.
Ketika cedera, tubuh bekerja dua kali lebih keras untuk memperbaiki sel. Untuk itu, pastikan asupan protein cukup untuk membantu regenerasi otot. Susu kambing bisa menjadi solusi protein yang kaya dan berkhasiat bagus untuk meredakan nyeri cedera.

