Lansia Wajib Tahu, 5 Jenis Olahraga Ini Sebaiknya Dihindari!

Lansia Wajib Tahu, 5 Jenis Olahraga Ini Sebaiknya Dihindari!

Olahraga adalah investasi kesehatan terbaik bagi siapa saja, termasuk lansia. Aktif bergerak merupakan kunci utama agar tubuh tetap bugar di usia senja. Namun, kita juga harus ingat bahwa kemampuan fisik lansia tentu sudah menurun dan tidak sekuat saat masih muda.

Risiko cedera tentu menjadi lebih besar jika asal memilih aktivitas. Oleh karena itu, ada beberapa jenis olahraga yang sebaiknya mereka hindari atau minimal mereka batasi dengan ketat agar niat sehat ini tak berujung di ranjang rumah sakit.

Jenis Olahraga yang Berbahaya bagi Lansia

Namun, tak semua olahraga aman bagi lansia, terutama jika melakukannya tanpa pengawasan yang tepat. Berikut adalah beberapa jenis olahraga yang berisiko dan perlu diwaspadai.

1. Olahraga Kontak Fisik

Olahraga Lansia, Bermain Bola

Sebaiknya hindari olahraga yang rawan benturan. Tulang dan sendi lansia biasanya sudah tidak sekuat dulu dan mulai keropos, jadi benturan sedikit saja bisa sangat berbahaya dan memicu patah tulang. Beberapa contohnya, sebagai berikut!

  • Tinju, pukulan ke arah tubuh dan kepala sangat berisiko memicu gegar otak atau kerusakan organ dalam.
  • Gulat, bantingan dan tarikan otot yang intens sangat rentan memicu keseleo parah, dislokasi sendi, hingga cedera tulang.
  • Sepak bola, adanya manuver tackling dan benturan antar pemain membuat risiko cedera lutut dan pergelangan kaki melonjak drastis.

Jika lansia memang menyukai aktivitas yang melatih fokus dan keseimbangan tubuh, olahraga dengan gerakan lambat seperti Tai Chi adalah pilihan yang jauh lebih aman ketimbang tiga opsi di atas.

2. Angkat Beban

Angkat beban memang bagus untuk menjaga otot lansia, tapi jangan sampai harus memaksakan diri dengan beban yang terlalu berat. Memaksakan beban berat pada otot lansia justru bisa memicu cedera punggung parah.

Kalau posisi angkatnya salah, lutut dan bahu juga bisa terkena dampaknya. Yang lebih bahaya, angkat beban berat bisa membuat tekanan darah naik mendadak dan memaksa jantung bekerja terlalu keras.

Alternatif untuk olahraga sejenis, gunakan karet resistensi (resistance band) atau dumbbell berbobot sangat ringan, sekitar 1-2 kg, dengan fokus pada kebenaran postur dan pergerakan otot saja.

3. Lari Maraton

Lari Maraton

 

Berlari memang terlihat praktis dan murah. Namun, lari jarak jauh memberi tekanan terus-menerus pada sendi penyangga tubuh, terutama lutut dan pinggul. Hentakan berulang ini berisiko memicu atau memperparah pengapuran sendi (osteoarthritis).

Kelenturan otot yang banyak menurun membuat lansia lebih mudah keseleo jika berlari terlalu lama. Karena berlari menuntut kerja jantung yang kuat, olahraga ini juga sangat berisiko memicu sesak napas bagi mereka yang punya riwayat penyakit jantung.

Nah, jalan santai pagi hari atau jalan cepat (brisk walking) jauh lebih ramah untuk persendian namun tetap ampuh melatih kekuatan jantung dan paru-paru. Ini bisa menjadi opsi jika lansia menyukai aktivitas berlari.

4. Olahraga Ekstrem

Sesuai namanya, risiko olahraga ekstrem juga berlipat ganda, apalagi untuk tubuh lansia yang refleks fisiknya sudah mulai lambat. Aktivitas ekstrem sangat lekat dengan risiko hantaman keras atau jatuh dari ketinggian. Hindari olahraga yang memacu adrenalin berlebih, seperti berikut!

  • Panjat tebing, karena ada risiko tergelincir, meski dengan pengaman lengkap, tetap bisa memberikan tekanan kejut yang meretakkan tulang lansia.
  • Bungee jumping dan terjun payung, hentakan mendadak saat tali memantul atau benturan saat mendarat di tanah memberi tekanan luar biasa pada tulang belakang dan detak jantung.
  • Surfing dan kitesurfing, hantaman ombak besar dan kecepatan tinggi di atas air sangat rawan menyebabkan cedera kepala.

5. Aerobik Intensitas Tinggi

Senam Persendian untuk Lanjut Usia

Kelas aerobik memang seru dan membangkitkan semangat. Namun, aerobik intensitas tinggi (high-impact) yang banyak melibatkan gerak lompat, berputar cepat, dan menghentak kurang cocok karena terlalu membebani persendian lansia.

Gerakan cepat sangat rentan mencederai ligamen. Selain itu, ritme olahraga yang terlalu intens juga berisiko melonjakkan detak jantung dan tekanan darah, yang bisa memicu gangguan irama jantung (aritmia) pada lansia penderita hipertensi.

Tetap Bergerak dengan Aman

Adanya larangan di atas bukan berarti para lansia harus terus-terusan duduk santai di dalam rumah. Bergerak aktif tetap menjadi resep sehat yang ampuh. Agar lebih nyaman dan minim cedera, pilihlah olahraga dengan benturan rendah (low-impact), contohnya?

  • Berjalan kaki rutin di taman.
  • Berenang atau senam air.
  • Yoga atau latihan pernapasan.
  • Bersepeda santai atau memakai sepeda statis.

Demi keamanan maksimal, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter atau instruktur olahraga terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk merancang program olahraga yang paling aman dan sesuai dengan kondisi kesehatan lansia.

Susu kambing adalah salah satu sumber protein yang kaya dan mudah terserap tubuh. Kombinasi kalsium di dalamnya juga bisa mendukung tulang, otot, dan sendi, membantu para lansia untuk tetap aktif di masa tua.

Susu Kambing Merapi Gold

BELI SEKARANG

Bukan Susu Kambing Biasa

Lebih Berkhasiat

Tidak hanya lezat, Susu Kambing Merapi juga berkhasiat. Beberapa keluhan penyakit terbantu dengan minum Susu Kambing Merapi.