Kapan Harus Berhenti saat Capek Lari Maraton? Ini Kata Dokter!

Kapan Harus Berhenti saat Capek Lari Maraton? Ini Kata Dokter!

Saat ini, lari maraton sudah menjadi tren yang digandrungi hampir semua kalangan. Tak heran, berbagai event lari selalu penuh dengan antusiasme peserta. Namun, ada hal penting yang sering kita lupakan di balik euforia lari ini, yakni mengenali batas dan kapan harus berhenti.

Kabar duka dari ajang lari BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) pada 13-14 Juni 2026 lalu kembali menjadi pengingat pahit bagi kita. Di tengah tingginya antusiasme, sejumlah pelari tercatat kolaps di lintasan, dan satu di antaranya meninggal dunia.

Kejadian ini tentu memunculkan satu pertanyaan penting buat kita yang hobi lari. Sebenarnya, kapan sih kita tahu waktu yang tepat untuk berhenti? Nah, spesialis kedokteran olahraga, dr. Andi Kurniawan, Sp.KO, menjelaskan secara gamblang hal ini.

Kapan Harus Berhenti saat Capek Lari?

Kapan Harus Berhenti saat Lari Maraton

dr. Andi kembali mengingatkan prinsip sederhana yang wajib dipegang setiap pelari, yakni listen to your body (dengarkan tubuhmu). Intinya, setiap pelari harus peka terhadap kondisi fisiknya sendiri saat sedang berlari.

Menurut dr. Andi, kepekaan dalam merespons sinyal tubuh akan membantu kita mendeteksi kondisi internal secara akurat. Dan pada dasarnya, tubuh memiliki kecerdasan dan akan selalu memberi peringatan jika ada yang tidak beres.

“Ketika sedang berlari, itu penting banget untuk listen to your body karena kita mendengarkan parameter apa yang ada dalam tubuh kita,” ungkap dr. Andi, melansir dari laman detikHealth, Selasa (16/6/2026).

Parameter yang Perlu Kita Perhatikan

Pertama, indikator paling jelas adalah rasa nyeri. Jika saat berlari tiba-tiba muncul nyeri di telapak kaki, lutut, atau sesak di dada, ini adalah pertanda yang tak boleh kita abaikan. Rasa sakit ini bisa saja menjadi alarm tubuh agar tubuh segera berhenti.

Jika mendapatinya, langkah pertama adalah segera turunkan kecepatan lari Anda. “Bila perlu, berhentilah sejenak. Lakukan peregangan (stretching), cek detak jantung (heart rate), tarik napas panjang, dan atur kembali ritme pernapasan,” jelas dr. Andi.

Selain nyeri, waspadai juga gejala lainnya, seperti pusing, linglung, atau pandangan berkunang-kunang. Gejala ini biasanya menjadi pertanda bahwa tubuh mengalami dehidrasi akibat cuaca yang terlalu panas.

Utamakan Keselamatan di Atas Garis Finis

Garis Finis

Terkadang, pelari tetap memaksakan diri di tengah kelelahan ekstrem hanya karena ego, gengsi, dan rasa tak mau kalah dari peserta lain. Padahal, keselamatan diri seharusnya selalu menjadi prioritas yang utama.

“Ketika kita merasa kurang sehat, kita harus benar-benar bisa memutuskan untuk DNS (Did Not Start) atau tidak memulai balapan. Itu adalah sebuah keputusan yang sangat pemberani dari seorang pelari,” tegas dr. Andi.

Banyak pelari merasa gagal jika tidak menyentuh garis finis. Menurut dr. Andi, memilih DNS (Did Not Start) atau DNF (Did Not Finish) bukanlah hal yang memalukan, melainkan keputusan bijak. Pelari berani memprioritaskan nyawa dan kesehatannya di atas ambisi mencapai garis akhir.

“Saya rasa itu yang penting untuk dikampanyekan, bahwa kita berlari untuk sehat. Yang namanya personal best (catatan waktu tercepat) itu hanyalah bonus,” pungkas dr. Andi. Sudah sepantasnya pelari mengutamakan keselamatan di atas garis finis.

Penutup

Sebagai pelari, baik pemula atau profesional, kita harus jujur pada kondisi diri. Kepekaan dengan kondisi fisik, tahu kapan harus berhenti, bahkan harus Anda tanam sejak sebelum persiapan lari berlangsung.

Nah, untuk membantu menjaga kesehatan dan mendukung aktivitas lari, kita bisa rutin meminum Susu Kambing Merapi. Susu kambing mempunyai kalsium, protein, dan multi-vitamin yang baik untuk mendukung tulang dan massa otot. Tertarik mencoba?

Susu Kambing Merapi Gold

BELI SEKARANG

Bukan Susu Kambing Biasa

Lebih Berkhasiat

Tidak hanya lezat, Susu Kambing Merapi juga berkhasiat. Beberapa keluhan penyakit terbantu dengan minum Susu Kambing Merapi.