Anak Susah BAB, Ternyata Tak Melulu karena Kurang Serat

Anak Susah BAB, Ternyata Tak Melulu karena Kurang Serat

Anak sudah makan pepaya, sayur, bahkan rutin minum air putih, tetapi masih juga susah buang air besar. Kondisi seperti ini tentu membuat orang tua khawatir, apalagi jika anak mulai mengeluh sakit perut atau menangis setiap kali ingin BAB.

Selama ini, sembelit sering dikaitkan dengan kurangnya konsumsi serat. Karena itu, banyak orang tua langsung menambah porsi buah dan sayur ketika anak mengalami kesulitan buang air besar.

Padahal, anak susah BAB tidak selalu disebabkan oleh kurang serat. Ada beberapa faktor lain yang perlu diperhatikan, termasuk kebiasaan menahan BAB dan gangguan pola buang air besar.

Kapan Anak Dikatakan Mengalami Sembelit?

Ilustrasi Anak Susah BAB

Sembelit atau konstipasi merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan mengeluarkan tinja.

Pada anak, sembelit dapat ditandai dengan frekuensi BAB yang lebih jarang, tinja keras, atau rasa sakit saat buang air besar.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), beberapa tanda konstipasi pada anak meliputi:

  • BAB dua kali seminggu atau kurang.
  • Tinja keras, kering, atau berbentuk gumpalan kecil.
  • Anak mengejan atau merasa kesakitan saat BAB.
  • Perut terasa kembung atau tidak nyaman.
  • Anak terlihat sengaja menahan keinginan buang air besar.

Namun, tidak semua anak harus BAB setiap hari. Frekuensi normal dapat berbeda sesuai usia dan kebiasaan masing-masing.

Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sering anak BAB, tetapi juga konsistensi tinja dan kenyamanan saat mengeluarkannya.

Mengapa Anak Bisa Sembelit Meskipun Sudah Makan Buah?

Ada beberapa penyebab yang mungkin tidak disadari orang tua.

1. Kebiasaan Menahan BAB

Salah satu penyebab umum sembelit pada anak adalah kebiasaan menunda buang air besar.

Anak mungkin terlalu asyik bermain, tidak nyaman menggunakan toilet sekolah, atau pernah mengalami BAB yang menyakitkan.

Ketika tinja terlalu lama berada di usus besar, semakin banyak air yang diserap tubuh. Akibatnya, tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.

Jika kondisi ini berulang, anak dapat semakin takut BAB dan terus menahannya.

2. Asupan Cairan Kurang

Minum Susu

Air membantu menjaga fungsi pencernaan dan mendukung konsistensi tinja.

Anak yang kurang minum, terutama saat aktif bermain atau berada di lingkungan panas, dapat mengalami masalah pencernaan.

Namun, memberikan air secara berlebihan bukan berarti sembelit akan lebih cepat sembuh.

Kebutuhan cairan harus disesuaikan dengan usia, aktivitas, dan kondisi kesehatan anak.

3. Pola Makan Belum Seimbang

Meskipun sudah makan buah, anak mungkin masih kurang mendapatkan serat dari sumber makanan lainnya.

Serat tidak hanya terdapat dalam buah, tetapi juga sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.

Sebaliknya, pola makan yang terlalu didominasi makanan rendah serat dapat membuat kebutuhan serat harian sulit terpenuhi.

4. Perubahan Rutinitas

Memasuki sekolah baru, bepergian, atau menjalani latihan menggunakan toilet dapat mengubah kebiasaan BAB anak.

Sebagian anak merasa malu menggunakan toilet di luar rumah sehingga memilih menahan BAB sampai pulang.

Jika sering terjadi, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko sembelit.

Tips Menangani Anak yang Sembelit

Pedoman European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN) yang diterbitkan pada Mei 2026 memberikan penjelasan penting mengenai penanganan konstipasi pada anak.

Pedoman tersebut merekomendasikan pola makan seimbang, konsumsi air dan serat sesuai kebutuhan usia, serta aktivitas fisik yang normal.

Namun, belum ada bukti yang mendukung pemberian serat atau cairan melebihi kebutuhan harian sebagai pengobatan rutin sembelit pada anak.

Artinya, apabila kebutuhan serat anak sudah terpenuhi, terus menambah jumlahnya belum tentu menyelesaikan masalah.

Pedoman tersebut juga menekankan pentingnya memperbaiki kebiasaan buang air besar.

Pada anak yang mengalami sembelit berkepanjangan, dokter mungkin perlu memberikan pengobatan untuk membantu melunakkan tinja dan memutus kebiasaan menahan BAB.

Cara Membantu Anak yang Susah BAB

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dicoba orang tua.

1. Biasakan Duduk di Toilet Setelah Makan

Ajak anak duduk di toilet secara teratur, misalnya setelah sarapan.

Berikan waktu yang cukup dan hindari memaksa anak mengejan.

Untuk anak yang sudah menggunakan toilet duduk, pijakan kaki dapat membantu menciptakan posisi yang lebih nyaman.

2. Beri Makanan Berserat Bertahap

Variasikan makanan anak dengan pepaya, pir, sayuran, oatmeal, dan kacang-kacangan sesuai usia.

Penambahan serat sebaiknya dilakukan bertahap agar anak dapat menyesuaikan diri.

3. Pastikan Anak Cukup Minum

Biasakan menyediakan air putih sepanjang hari.

Sesuaikan jumlahnya dengan kebutuhan anak, bukan memaksanya minum sebanyak mungkin.

4. Dorong Anak Aktif Bergerak

Bermain di luar rumah, berjalan kaki, dan aktivitas fisik sesuai usia dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehat.

5. Jangan Sembarangan Memberikan Obat Pencahar

Jika sembelit tidak membaik, dokter dapat mempertimbangkan obat pencahar sesuai kondisi anak.

Hindari memberikan obat pencahar, enema, atau ramuan herbal tanpa petunjuk tenaga kesehatan.

Apakah Susu yang Tidak Cocok Bisa Menyebabkan Sembelit?

Sebagian orang tua mencoba mengganti susu ketika anak mengalami sembelit.

Namun, belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa mengganti susu sapi dengan susu kambing secara umum dapat mengatasi konstipasi pada anak.

Pada sebagian kecil kasus tertentu, dokter mungkin mempertimbangkan kemungkinan alergi protein susu sapi, terutama jika sembelit tidak membaik dengan penanganan biasa dan terdapat kecurigaan alergi.

Meski demikian, susu kambing bukan pengganti yang aman bagi anak dengan alergi protein susu sapi karena terdapat risiko reaksi silang.

Karena itu, perubahan jenis susu sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan nutrisi dan kondisi kesehatan anak.

Kapan Anak Harus Periksa ke Dokter?

Segera cari pertolongan medis apabila sembelit disertai nyeri perut berat atau menetap, muntah, perut sangat membesar, darah pada tinja, atau penurunan berat badan.

Pemeriksaan juga diperlukan jika sembelit berlangsung lebih dari dua minggu atau tidak membaik dengan perawatan awal.

Pada bayi, terutama yang masih sangat kecil, kesulitan BAB perlu dinilai sesuai usia dan pola pemberian susunya.

Jangan memberikan obat atau mengubah formula bayi tanpa arahan tenaga kesehatan.

Sembelit pada anak dapat dipengaruhi oleh pola makan, kebutuhan cairan, kebiasaan menahan BAB, dan faktor lainnya.

Memenuhi kebutuhan serat tetap penting, tetapi bukan satu-satunya solusi.

Dengan memahami penyebabnya, membangun kebiasaan BAB yang nyaman, dan mendapatkan pemeriksaan bila diperlukan, orang tua dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan anak dengan lebih tepat.

Bukan Susu Kambing Biasa

Lebih Berkhasiat

Tidak hanya lezat, Susu Kambing Merapi juga berkhasiat. Beberapa keluhan penyakit terbantu dengan minum Susu Kambing Merapi.