Pernahkah Anda menghadapi anak yang menolak nasi, sayur, atau lauk, tetapi langsung bersemangat ketika ditawari susu? Situasi seperti ini sering membuat orang tua bingung. Di satu sisi, anak membutuhkan nutrisi untuk tumbuh kembang. Namun, di sisi lain, ia justru lebih memilih minum susu daripada makan.
Sebagian orang tua akhirnya memberikan susu lebih sering agar anak tidak kekurangan nutrisi. Kebiasaan tersebut mungkin terlihat membantu, terutama ketika anak sedang sulit makan.
Namun, tahukah Anda bahwa anak terlalu banyak minum susu justru dapat mengalami penurunan keinginan untuk makan? Bahkan, dalam kondisi tertentu, konsumsi susu berlebihan dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi.
Daftar Isi
Mengapa Anak Lebih Suka Minum Susu daripada Makan?

Susu memiliki rasa yang umumnya disukai anak dan lebih mudah dikonsumsi dibandingkan makanan padat.
Anak tidak perlu mengunyah, sehingga minum susu terasa lebih praktis, terutama ketika sedang lelah atau kurang tertarik pada makanan.
Selain itu, susu mengandung energi dan zat gizi yang dapat memberikan rasa kenyang.
Apabila anak minum susu dalam jumlah besar menjelang waktu makan, rasa laparnya mungkin berkurang.
Akibatnya, ketika makanan utama disajikan, anak hanya mengonsumsi sedikit atau bahkan menolaknya.
Namun, tidak semua kesulitan makan disebabkan oleh susu. Faktor lain seperti kebiasaan makan, pemilihan tekstur, gangguan kesehatan, dan perkembangan perilaku anak juga dapat memengaruhi nafsu makan.
Apa Risiko Anak Terlalu Banyak Minum Susu?
Susu merupakan sumber nutrisi yang bermanfaat, tetapi tidak dapat menggantikan seluruh kebutuhan zat gizi dari makanan.
Ada beberapa masalah yang perlu diperhatikan ketika konsumsi susu terlalu mendominasi pola makan anak.
1. Anak Menjadi Kurang Tertarik pada Makanan Utama
Ketika kebutuhan energi sebagian besar dipenuhi melalui susu, anak mungkin tidak merasa cukup lapar untuk mengonsumsi makanan lain.
Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat mengurangi kesempatan anak mengenal berbagai rasa dan tekstur makanan.
Padahal, pengalaman makan yang beragam penting untuk membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini.
2. Risiko Kekurangan Zat Besi
Salah satu masalah yang perlu diperhatikan adalah anemia defisiensi besi.
Zat besi dibutuhkan tubuh untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen.
Susu hewani biasa bukan sumber zat besi yang tinggi.
Apabila anak terlalu banyak minum susu dan kurang mengonsumsi makanan kaya zat besi, kebutuhan mineral tersebut mungkin tidak terpenuhi.
Pada Juni 2026, American Academy of Pediatrics menerbitkan laporan klinis yang menekankan pentingnya membatasi konsumsi susu berlebihan dan memastikan kecukupan zat besi pada anak.
Kekurangan zat besi dapat menimbulkan keluhan seperti mudah lelah, pucat, dan berkurangnya aktivitas. Namun, pada tahap awal, kondisi ini juga dapat terjadi tanpa gejala yang jelas.
3. Pola Makan Menjadi Kurang Beragam
Anak membutuhkan berbagai zat gizi untuk mendukung pertumbuhan.
Selain protein dan kalsium, tubuh memerlukan zat besi, seng, vitamin, lemak, dan serat dari beragam sumber makanan.
Jika anak terlalu mengandalkan susu, asupan zat gizi tertentu dari makanan lain berisiko tidak mencukupi.
Berapa Banyak Susu yang Boleh Diminum Anak?
![]()
Jumlah susu yang dibutuhkan bergantung pada usia, pola makan, kondisi kesehatan, dan apakah anak masih mendapatkan ASI.
Dalam laporan klinis tahun 2026, American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar anak berusia di atas satu tahun mengonsumsi susu sapi atau alternatif susu dalam jumlah kurang dari 24 ons cairan, atau sekitar 710 mililiter per hari.
Angka tersebut merupakan batas atas dalam rekomendasi tersebut, bukan target yang harus dihabiskan setiap hari.
Kebutuhan masing-masing anak dapat lebih rendah.
Untuk bayi di bawah usia 12 bulan, susu kambing biasa tidak boleh digunakan sebagai pengganti utama ASI atau formula bayi yang sesuai.
Orang tua juga perlu memperhatikan bahwa kebutuhan susu anak tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan usia tanpa mempertimbangkan makanan dan minuman lain yang dikonsumsi.
Cara Mengatur Kebiasaan Minum Susu Anak
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua.
1. Buat Jadwal Makan Teratur
Biasakan anak memiliki waktu makan utama dan makanan selingan yang konsisten.
Hindari memberikan susu dalam jumlah besar tepat sebelum waktu makan.
Dengan demikian, anak memiliki kesempatan merasakan lapar secara alami ketika makanan disajikan.
2. Utamakan Makanan Bergizi Seimbang
Sediakan makanan dengan sumber karbohidrat, protein hewani atau nabati, sayuran, dan buah sesuai usia.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi, variasikan menu dengan daging, ikan, telur, serta sumber nabati seperti tempe dan kacang-kacangan.
3. Jangan Memaksa Anak Menghabiskan Makanan
Menurut pedoman World Health Organization (WHO), pemberian makan secara responsif penting untuk mendukung kebiasaan makan anak.
Orang tua dianjurkan memperhatikan tanda lapar dan kenyang, memberikan dorongan secara positif, serta menghindari pemaksaan.
4. Evaluasi Jumlah Susu yang Dikonsumsi
Cobalah mencatat berapa kali anak minum susu dan jumlah yang dihabiskan setiap hari.
Perhatikan pula apakah kebiasaan tersebut membuat anak melewatkan makanan utama.
Jika konsumsi susu terlalu banyak, pengaturannya dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan anak.
Susu Penting, tetapi Bukan Pengganti Makanan
Susu dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak, tetapi jumlah dan waktu pemberiannya perlu diperhatikan.
Anak terlalu banyak minum susu berisiko kehilangan kesempatan mendapatkan zat gizi penting dari makanan lain, termasuk zat besi.
Karena itu, membangun jadwal makan yang teratur, menyediakan makanan beragam, dan memperhatikan pertumbuhan anak merupakan langkah yang lebih tepat daripada hanya menambah jumlah susu ketika anak sulit makan.
