Penyebab dan Cara Mencegah Saraf Kejepit karena Olahraga

Penyebab dan Cara Mencegah Saraf Kejepit karena Olahraga

Tren berolahraga yang booming akhir-akhir memang bikin kita semangat hidup sehat. Namun, di balik itu ada risiko kesehatan yang mengintai tanpa kita sadari. Nah, olahraga karena FOMO dan tren tanpa teknik yang benar ternyata berpotensi memicu saraf kejepit.

Menurut penjelasan dr. Mahdian Nur Nasution, Sp.BS., seorang dokter spesialis bedah saraf di Rumah Sakit Lamina, fenomena FOMO tren olahraga tanpa persiapan yang tepat ini, justru bisa berbalik menyerang kesehatan kita.

“Banyak orang tergoda mengikuti tren tanpa memahami kondisi tubuh atau teknik yang benar. Akibatnya, bukannya semakin sehat, justru berujung pada cedera serius di tulang belakang, seperti saraf kejepit,” jelas dr. Mahdian.

Olahraga yang Bisa Memicu Saraf Kejepit

Saraf Kejepit karena Olahraga

Pada dasarnya, menurut dr. Mahdian, tidak ada olahraga yang murni berbahaya. Hanya saja, kalau dilakukan asal-asalan, beberapa olahraga yang sedang tren akhir-akhir ini cukup berisiko tinggi memicu saraf kejepit. Apa saja olahraga tersebut?

  • HIIT (High-Intensity Interval Training): Olahraga ini menuntut gerakan cepat, melompat, dengan intensitas tinggi dalam waktu sangat singkat. Jika postur tubuh saat mendarat atau bergerak tidak tepat, tulang belakang akan menerima tekanan kejut yang sangat besar.
  • Angkat Beban Berat: Ini adalah jenis olahraga penyebab saraf kejepit paling sering, efeknya biasanya terasa di area pinggang bawah dan leher. Mengangkat beban di luar kapasitas tubuh dengan lengkungan punggung yang salah akan langsung menekan bantalan saraf tulang belakang.
  • Lari Jarak Jauh (Maraton): Banyak pelari pemula yang langsung memaksakan diri ikut half-marathon tanpa latihan progresif (bertahap) terlebih dulu. Nah, lari jauh tanpa otot inti tubuh (core muscle) yang kuat akan memberikan tekanan berulang pada tulang belakang.
  • Olahraga Kompetitif Mendadak (Futsal, Basket, Padel): Olahraga yang butuh manuver cepat, berputar mendadak, atau melompat sering kali memicu cedera akut, apalagi jika kita melewatkan sesi pemanasan.

Kenapa Banyak Olahraga Viral Memicu Cedera?

Menurut dr. Mahdian, tren olahraga yang lagi viral sering bikin orang ikut-ikutan berlatih tanpa persiapan matang, sehingga ujung-ujungnya malah cedera. Lantas, apa saja penyebab cedera saraf kejepit karena olahraga ini, ya?

1. Sindrom Overtraining

Saat semangat sedang menggebu-gebu, terkadang kita memaksa tubuh beradaptasi terlalu cepat tanpa istirahat yang cukup. Padahal, tubuh yang telanjur kelelahan akan kehilangan kekuatan untuk menopang posturnya sendiri.

Tubuh yang kelelahan ekstrem, otot penopang postur akan ikut melemah. Inilah yang membuat punggung tanpa sadar membungkuk, bahu merosot, kepala maju ke depan, atau tubuh terasa mau ambruk ketika berdiri atau duduk agak lama.

2. Asal Tiru dari Media Sosial

Sering kali, kita meniru gerakan workout hanya dari video 30 detik tanpa panduan yang terstruktur. Hasilnya, postur tubuh saat bergerak jadi keliru. Tulang belakang yang seharusnya lurus justru melengkung, sehingga beban tubuh akhirnya menekan saraf.

Belajar workout cuma dari video pendek memang rawan bikin gerakan kita keliru. Video semacam ini biasanya luput menjelaskan detail penting, mulai dari posisi badan yang pas, cara mengatur napas, sampai kesalahan-kesalahan yang wajib dihindari.

3. Tidak Pemanasan & Pendinginan

“Kurangnya pemanasan dan pendinginan membuat otot menjadi kaku, sehingga lebih rentan cedera,” kata dr. Mahdian. Tanpa pemanasan, suhu otot relatif masih rendah, sirkulasi darah belum lancar, dan sendi belum cukup lentur untuk menahan beban gerakan.

Di saat otot, tendon, dan sendi belum siap menerima aktivitas berat, tubuh akan kesulitan menahan beban gerakan. Hal inilah yang melipatgandakan risiko cedera dan saraf kejepit saat melakukan inti olahraga.

Tips Mencegah Cedera saat Olahraga

Ilustrasi Olahraga di Gym

Menurut dr. Mahdian, sebetulnya sah-sah saja mengikuti tren olahraga, asalkan kita konsisten melakukan pencegahan supaya kesehatan tidak jadi korbannya. Tips dari beliau, mulailah berlatih secara bertahap agar tubuh sempat beradaptasi.

Tidak hanya berlatih secara bertahap. Pastikan juga teknik gerakan yang kita lakukan sudah benar. Jika perlu, belajarlah dari sumber terpercaya atau minta pendampingan dari pelatih profesional di jenis olahraga tersebut.

Selain itu, pemanasan dan pendinginan adalah hal wajib saat berolahraga. “Pemanasan dan pendinginan wajib. Keduanya membantu menyiapkan otot dan sendi, sekaligus menekan risiko cedera,” jelas dr. Mahdian.

Selama berolahraga, jaga postur tubuh tetap ideal untuk melindungi tulang belakang dari beban berlebih. Jangan lupa, berikan tubuh waktu istirahat yang cukup agar bisa recovery dengan maksimal dan terhindar dari cedera karena diforsir.

“Terakhir, selalu peka pada alarm tubuhmu. Rasa nyeri itu bukan tanda latihan berhasil, melainkan peringatan untuk berhenti. Kalau pendekatannya benar, kita bisa bebas dari ancaman saraf kejepit sambil tetap asyik berolahraga,” ungkap dr. Mahdian.

Penutup

Nah, perawatan tulang dan sendi dari luar tentu harus terus kita imbangi dengan nutrisi dari dalam. Agar tulang, otot, dan sendi tidak gampang loyo meski aktivitas padat, kita juga bisa rutin mengonsumsi Susu Kambing Merapi.

Susu bubuk praktis ini diformulasikan khusus untuk menjaga kepadatan tulang serta merawat dan mengatasi kesehatan otot dan persendian. Dengan postur yang baik dan nutrisi tepat dari susu kambing, tubuh bakal lebih fit, leluasa bergerak, dan bebas dari penyakit!

Susu Kambing Merapi Gold

BELI SEKARANG

Bukan Susu Kambing Biasa

Lebih Berkhasiat

Tidak hanya lezat, Susu Kambing Merapi juga berkhasiat. Beberapa keluhan penyakit terbantu dengan minum Susu Kambing Merapi.