Mudah dicerna, kaya nutrisi, dan punya banyak khasiat, bikin susu kambing semakin populer menjadi alternatif susu sapi. Di pasaran, susu kambing tersedia dalam dua bentuk utama, susu cair dan susu bubuk. Lantas, bagaimana perbandingan keduanya?
Sekilas, keduanya sama-sama menyehatkan. Namun ternyata, ada perbedaan cukup signifikan dalam hal nutrisi, daya simpan, harga, maupun rasa. Pertanyaannya, mana yang lebih baik? Susu kambing bubuk atau susu kambing cair? Mari kita kupas!
Daftar Isi
Perbandingan Susu Kambing Bubuk dan Susu Kambing Cair
Perbedaan mendasar antara susu kambing bubuk dan susu kambing cair adalah cara produksinya. Tahapan yang berbeda ini, tentu berpengaruh di hasil akhirnya. Berikut adalah perbandingan susu bubuk dan susu cair, utamanya dalam hal nutrisi, daya simpan, dan rasanya.
1. Nutrisi Susu Bubuk Lebih Stabil

Susu bubuk berasal dari susu cair yang melalui proses pemanasan, penguapan, dan pengeringan dengan bantuan alat bernama spray dryer. Proses ini akan mengurangi kadar airnya, hingga susu berubah bentuk menjadi bubuk.
Menurut penelitian di ResearchGate, proses pengeringan justru membantu menjaga stabilitas protein dan nutrisi dalam susu. Hal ini bikin susu bubuk, terutama yang diformulasikan dengan herbal atau perasa, tetap stabil khasiatnya meski disimpan dalam jangka panjang.
Sementara itu, susu kambing cair biasanya diproses dengan ultra high temperature (UHT) atau pasteurisasi. Kandungan nutrisinya tetap baik, tetapi lebih mudah rusak dan tidak stabil. Nutrisinya akan mengalami degradasi seiring masa simpan.
2. Daya Simpan Susu Cair Pendek

Baik susu bubuk atau cair, keduanya sama-sama melalui proses pasteurisasi untuk membunuh bakteri berbahaya. Namun, sifat dasar susu cair yang masih kaya air membuatnya lebih mudah basi jika disimpan.
Penelitian dalam Food Packaging and Shelf Life menunjukkan bahwa susu cair lebih cepat rusak dibanding susu bubuk karena lebih rentan ditumbuhi bakteri dan jamur, sehingga daya simpannya cenderung jauh lebih pendek.
Susu cair biasanya bertahan beberapa bulan dalam kondisi tertutup rapat. Tetapi, setelah kemasan terbuka, daya simpannya hanya sekitar 3-5 hari di dalam kulkas. Sementara susu bubuk, bisa bertahan hingga 1-2 tahun, dan tidak basi meski sudah terbuka (asal tidak lembap).
3. Susu Bubuk Minim Bau

Kebanyakan orang enggan meminum susu kambing karena kurang nyaman dengan bau perengusnya yang khas. Padahal, bau ini sebenarnya bukan berasal dari kambing betina (penghasil susu), melainkan dari kambing jantan saat memasuki musim kawin.
Namun, karena susu bersifat mudah menyerap aroma di sekitarnya, maka jika kambing betina dipelihara berdekatan dengan kambing jantan, susunya bisa terkontaminasi bau perengus. Aroma ini, akan tetap terbawa di susu cair meski sudah melewati proses pemasakan.
Pada susu bubuk, aroma ini lebih jarang kita temukan. Produsen susu kambing bubuk, sering kali menambahkan krimer, gula, atau formula tambahan lain yang membuat rasanya lebih ringan, balance, dan tidak berbau menyengat.
4. Harga Susu Bubuk Lebih Ekonomis
Jika kita membandingkan dari sisi harga, susu bubuk relatif lebih terjangkau. Selain lebih murah, susu bubuk juga praktis karena bisa kita buat sesuai kebutuhan. Misalnya, hanya menyeduh setengah gelas saja, tanpa khawatir sisanya terbuang.
Berbeda dengan susu cair yang tidak memiliki daya tahan yang lama. Meski kita sudah menyimpannya di dalam kulkas, susu cair yang terbuka hanya bisa bertahan selama beberapa hari saja. Kelebihannya, susu cair biasanya terasa lebih segar.
Susu Kambing Bubuk atau Cair, Mana yang Lebih Baik?
Baik susu kambing bubuk atau cair, punya kelebihan masing-masing. Susu cair unggul pada minimnya proses pengolahan, sehingga kesegaran rasa tetap terjaga. Sementara susu bubuk, unggul dari segi daya simpan, harga, kestabilan nutrisi, dan minim bau perengus.
Jadi, mana yang lebih baik? Pilihan terbaik kembali lagi pada kebutuhan kita. Dengan kelebihan masing-masing, baik susu bubuk dan cair mempunyai khasiat dan nutrisi yang tidak berbeda jauh.

